“Apa yang lebih menyakitkan? Tak bisa melihatmu lagi. Atau, menyadari bahwa aku kehilangan dirimu karena kesalahanku sendiri. Aku terlalu takut untuk percaya.” (Hal. 226)
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Gita Romadhona & Ayuning
Penyelaras akhir: Mita M. Supardi & Widyawati Oktavia
Penata letak: Ria Kenes & Gita Ramayudha
Desainer sampul: Dwi Anisa Anindhika
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal: viii + 320 halaman
ISBN:978-979-780-772-6
Masa lalu akan tetap ada.
Kau tak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.
Pada kisah ini, kau akan bertemu An.
Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa – doa yang terbang ke langit. Doa – doa yang lupa kembali kepadanya.
An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu sejak berhari – hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang ternyata tak mampu ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.
Pernahkah kau merasa seperti itu?
Tak bisa menyalahkan siapa – siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka?
Tak bisa menyalahkan siapa – siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka?
Mungkinkah, kisah An seperti kisahmu.
Diam – diam, doa yang sama masih kau tunggu.
Diam – diam, doa yang sama masih kau tunggu.
***
“Hujan kerap dikaitkan dengan kesedihan.” (Hal. 23)
Anise, yang lebih suka disapa “An”, memutuskan untuk bekerja di Afternoon Tea sebagai asisten koki. Membantu menyediakan berbagai kue untuk dihidangkan di Afternoon Tea. Ya, Afternoon Tea adalah sebuah toko kue. Pengunjung pun bisa memesan kue untuk di makan di Afternoon Tea.
An sebenarnya lebih menyukai memasak makanan Italia. Namun ia harus melepaskan impian itu demi mewujudkan impian Arlet, saudari kembarnya. Ia harus membayar kesalahannya pada Arlet dengan memenuhi mimpi Arlet yang sangat gemar membuat kue. Meski itu berarti ia harus menyia-nyiakan semua usaha dan kesenangannya mempelajari masakan Italia. Ia berharap dengan itu ia Arlet akan memaafkannya dan menghapus bayangan kebencian yang ia lihat dari wajah saudari kembarnya itu. Hal terakhir yang ia lihat dari Arlet.
Bekerja di Afternoon Tea membuat An berkenalan dengan Julian. Julian adalah koki di Afternoon Tea. Tangannya piawai mengolah berbagai bahan menjadi kue. Tekstur yang pas dan penampilan yang memikat dan tentu saja dengan rasa kue yang lezat membuat Afternoon Tea ramai pengunjung. Sayangnya. An masih harus belajar banyak untuk membuat kue. Membuat kue berbeda dengan membuat pasta yang enak. Ini membuat An sering kali harus rela dimarahi oleh Julian.
Namun perlahan seiring dengan semakin mengenal Julian, An merasa tertarik pada laki – laki itu. Namun bagaimana dengan Jinendra? Laki – laki yang masih mengisi hati An namun setiap bertemu dengannya An harus menanggung rasa bersalah.
Bagaimana kehidupan An selanjutnya? Sanggupkah ia melepaskan mimpinya?
Baca selengkapnya »“Terima kasih. Aku tidak minta disukai. Kalau kue – kue buatanku bisa menyelamatkan hari seseorang, buatku itu sudah cukup.” (Hal. 57)

No comments:
Post a Comment