Thursday, 30 July 2015

To All The Boys I’ve Loved Before



Penulis: Jenny Han
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Yuli Yono
Ilustrasi isi: @teguhra
Penerbit: Spring
Cetakan: Pertama, April 2015
Jumlah hal.: 380 halaman
ISBN:978-602-71505-1-5
Lara Jean
Menyimpan surat – surat cintanya di sebuah kota topi pemberian ibunya.
Surat – surat itu bukan surat cinta yang ditujukan untuknya, tapi surat yang ia tulis. Ada satu surat untuk setiap cowok yang pernah ia cintai – totalnya ada lima pucuk surat. Setiap kali menulis, ia mencurahkan semua perasaannya. Ia menulis seolah – oleh mereka tidak akan pernah membacanya karena surat itu memang hanya untuk dirinya sendiri.
Sampai suatu hari, semua surat – surat rahasianya itu tanpa sengaja terkirimkan – entah oleh siapa.
Saat itu juga, kehidupan cinta Lara Jean yang awalnya biasa – biasa saja menjadi tal terkendali. Kekacauan itu melibatkan semua cowok yang pernah ia tulis di surat cintanya – termasuk cinta pertamanya, pacar kakaknya dan cowok terkeren di sekolah.
***
Membayangkan jadi Lara Jean pasti cukup memusingkan. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama dan kisah yang sangat mungkin terjadi di dunia nyata, masalah Lara Jean serasa menjadi masalah pribadi. Masalah saya sendiri.
Penuturan Lara Jean tentang kehidupannya sungguh sangat membuat kisah ini dekat dengan pembaca. Lara Jean bisa saja tetangga perempuan saya. Lara Jean bisa saja gadis berkacamata dan selalu memaki cardiganbiru di pojok perpustakaan kampus. Lara Jean bisa siapa saja.
Baca selengkapnya »

Sabtu Bersama Bapak




Penulis: Adhitya Mulya
Penyunting: Resita Wahyu Febriatri
Proofreader: Yuke Ratna P & Mita M. Supardi
Desainer Sampul: Jeffri Fernando
Penata Letak: Landi A. Handwiko
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Keempat, 2014
Jumlah hal.: x + 278 halaman
ISBN: 979-780-721-5
“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok. Ini Bapak.
Bapak Cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah,
berkat doa Satya dan Cakra.
...
Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.
Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away form us.
I don’t give death, a chance.
Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.
***
]
Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan..., tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

***

Novel ini berkisah tentang Gunawan, seorang ayah yang mempersiapkan agar kematian tidak membuat kedua putranya, Satya & Cakra, kehilangan sosok Bapak sepeninggalnya. Ia ingin tetap membantu Itje, istriya, membesarkan kedua anak laki – laki mereka. Maka ide membuat video – video dengan nasihat sang Bapak di dalamnya menjadi pilihan Gunawan. Ia merasa bahwa teknologi memang seharusnya bisa membantu manusia mengisi beberapa kekosongan. Ia pun ingin menunjukkan kepada sang anak tentang apa yang ia sebut “punya rencana; punya persiapan”. Maka selain mempersiapkan kebutuhan ekonomi yang cukup untuk istri dan anaknya sebelum ia berpulang karena kanker, ia pun mempersiapkan video – video yang bisa mengisi perannya. Tidak sama, tapi paling tidak bisa mengisi kekosongan.

Setelah itu, diceritakanlah kehidupan Satya dan Cakra (atau akrab disapa Saka) saat dewasa. Bagaimana Satya yang tengah mengalami polemik dalam rumah tangganya. Kesadaran bahwa istri dan anaknya ternyata kurang nyaman dengan kehadirannya. Ini membuat ia kembali menonton semua video yang dibuat oleh sang Bapak.

Pun dengan Cakra. Ia yang masih terus hidup sendiri saat semua orang menyuruhnya untuk segera memiliki pendamping hidup, terus berusaha hidup dengan cara yang diajarkan sang Bapak. Ia kini telah siap dengan rumah dan kemapanan ekonomi untuk istrinya, siapapun wanita yang ditetapkan Tuhan sebagai jodohnya.

Baca selengkapnya »

Wednesday, 29 July 2015

Sejuta Surat Cinta



 “Aku belum belajar cara membuat hati tetap terbuka, tapi melindunginya pada saat yang sama. Mengenali bahwa ketika orang – orang mengatak hal – hal yang buruk tentang dirimu, biasanya karena mereka merasa buruk tentang diri mereka sendiri dan ingin membuang perasaan – perasaan buruk itu dengan mengirimnya kepada orang lain, seseorang yang mereka pandang lebih lemah daripada mereka. Tentang itulah sejatinya penindasan.” (Hal. 50)



Diterjemahkan dari: One Million Lovely Letters
Penulis: Jodi Ann Bickley (dengan Kate Barker)
Penerjemah: Ida Rosdalina
Editor: Nunung Wiyanti
Penyelia: Chaerul Arif
Proofreader: Alfian Rahendra
Desain sampul: Priyanto
Tata Letak: Priyanto
Penerbit: Pustaka Alvabet
Cetakan: I, Agustus 2014
Jumlah hal.: 272 halaman
ISBN: 978-602-9193-50-3

Pada musim panas 2011, dalam usia 22, Jodi Ann Bickley mengidap penyakit serius yang akan mengubah kehidupannya selamany. Kala itu, dengan penuh semangat, Jodi tampil di Camp Bestival di Pulau Wight, Inggris. Kembali ke rumah dengan penuh kegembiraan, dengan lagu band terfavoritnya masih mengalun di kepalanya, dia membayangkan kenangan indah itu akan bertahan abadi. Namun, seminggu kemudia, dia menggeliat kesakitan di lantai ruang praktek dokter: dia divonis mengidap infeksi otak akut akibata gigitan serangga.

Hari – hari yang panjang berikutnya, Jodi berjuang keras memulihkan kesehatannya yang naik – turun. Penyakit itu terlalu berat untuknya dan dia bertanya – tanya apakah dirinya sanggup bertahan. Dia punya dua pilihan, menyerah seketika itu; atau melakukan sesuatu yang berarti dengan waktu yang ia miliki. Jodi memilih yang terakhir, dengan munis “surat cinta” yang dia peruntukkan bagi mereka yang tengah menderita.
 
Sejuta Surat Cinta adalah kisah inspirasional bagaimana seseorang mengubah takdir hidupnya. Kisah Jodi dalam buku ini menjadi bukti ternyata ihwal kekuatan dan keajaiban kata – kata yang menyembuhkan. Inilah surat menyentuh yang telah menggugah jutaan orang, dan menginspirasi kehidupan mereka.

***

Buku ini bukanlah sebuah novel. Jika itu yang Readers harapkan. Rasanya lebih tepat menyebutnya sebagai sebuah memoar. Cerita kehidupan Jodi Ann Bickley yang membuatnya memulai project One Million Lovely Letters.

Project yang dilakukan oleh Jodi ini berhasil menyentuh banyak orang dan menginspirasi berbagai kegiatan yang hampir sama. Itu sebabnya dirasa perlu memperkenalkan sosok Jodi lebih dalam lagi.

Dan ternyata kisah kehidupan Jodi sejak awal tidak mudah.
Baca selengkapnya »

Friday, 17 July 2015

Love, Stargirl



“Siapa dirimu jadinya andai kau kehilangan orang yang paling kau sukai? Bisakah kau kehilangan orang yang kau sukai tanpa kehilangan dirimu sendiri?” (Hal. 51)
Penulis: Jerry Spinell
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Desain cover: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Juli 2010
Jumlah hal.: 296 halaman
ISBN: 978-979-22-6034-2
Dalam lanjutan kisah Stargirl ini, Stargirl Caraway telah pindah dari Arizona ke Pennsylvania, meninggalkan Leo yang dicintainya. Di tempat baru ini ia berusaha menemukan kebagahagiaanya kembali bersama sahabat – sahabat barunya. Dootsia yang cerewet, Alvina yang galak dan pemarah, Betty Lou yang takut keluar rumah dan Margie si pemilik kedai donat.
Namun rasa rindunya pada Leo tak juga hilang ...
Sampai kemudian muncul seorang anak lelaki yang seunik dirinya – Perry yang tampak urakan dan tidak pedulian, Perry yang membuatnya penasaran, Perry yang punya potensi untuk menggantikan Leo yang berada jauh di Arizona.
Love, Stargirl adalah surat panjang Stargirl kepada Leo. Tak ada yang disembunyikan dari Leo, termasuk tentang perasaan yang mulai bertumbuh antara dirinya dan anak lelaki yang baru itu. Tapi di dalam suratnya juga ada satu pertanyaan penting yang khusus ditujukan pada Leo ....
***
Cerita tentang Stargirl kembali datang lagi. Jika di buku pertamanya, Stargirl diceritakan jatuh cinta pada seorang teman sekolahnya yang bernama Leo saat mencoba “mencicipi” kehidupan sekolah biasa, maka kali ini ceritanya berbeda namun tetap sama.
Stargirl masih jatuh cinta pada Leo. Namun Stargirl memulai kehidupan yang baru di Pennsylvania. Meninggalkan Arizona yang telah mengecewakannya karena tidak bisa menerima dirinya yang berbeda.
Kali ini kehidupan Stargirl melibatkan seorang gadis kecil bernama Dootsie yang selalu mengekorinya. Juga melibatkan Alvina, seorang anak perempuan yang beranjak remaja dengan sikap pemberang yang sulit dikendalikan. Serta melibatkan seorang perempuan bernama Betty Lou yang menderita agorafobia.
Kemudian ending buku yang bercerita tentang sebuah perayaan Titik Balik yang melibatkan semua orang yang masuk dalam kehidupan Stargirl selama gadis itu di Pennsylavania. 
Ah, ini menjadi surat cinta yang panjang dan akan menghangatkan hati orang yang membacanya. Betapa beruntungnya Leo.
***
“.... Mula – mula membenci sedikit, lama kelamaan makin banyak dan makin banyak. Kebencian selalu lapar.” (Hal. 68)
Sejak awal membaca novel ini, saya jelas punya ekspektasi tersendiri. Ini karena saya jatuh cinta setengah mati pada tokoh Stargirl sejak buku pertama. Tapi saya pun tahu bahwa ada yang  berubah sejak terakhir kali saya membaca buku tersebut.
Waktu 10 tahun jelas tidak sebentar. Perubahan pola pikir dan selera pun membuat saya tetap berjaga – jaga agar tidak membangun ekspektasi berlebih. Namun ternyata saya tetap menyukai apa yang disuguhkan oleh Jerry Spinelli. Keluguan dan kepolosan Stargirl.
Keberaniannya untuk tetap percaya pada dunia meski dengan resiko disakiti pun tetap menarik diikuti. Menghangatkan hati. Novel ini juga memperlihatkan betapa kita orang dewasa memang terkadang harus belajar tentang ketulusan hati dan keberanian dari seorang gadis kecil (juga dari seorang gadis remaja).
Cara penulis bercerita pun tetap menarik. Menjadikannya sebagai surat panjang yang lebih mirip jurnal harian membuat cara bertutur menjadi beragam. Mulai dari kalimat pendek sampai kalimat panjang bisa dieksplorasi. Mulai dari narasi dan dialog bisa disajikan menarik. Bahkan dialog imajiner Stargirl dengan Leo pun bisa disuguhkan menarik. Kehadiran salah seorang tokoh eksentrik yang “hidup” di buku pertama, Archie, pun membuat buku kedua ini tetap terhubung dengan baik dengan buku pertama.
Dan perhatikan kutipan ini.
Aku akan tetap–oke, akan kukatan lagi–mencintaimu, tapi aku tidak akan melalaikan diriku untukmu. Aku tak bisa tetap setia padamu tanpa setia pada diriku. Aku telah merebut kembali masa depanku. Andai kita ditakdirkan untuk bersama kembali, bahagialah karena kau akan memperoleh aku yang sesungguhnya, bukan setengah diriku yang cengeng. (Hal. 57)
Ah, sangat positif kan? Lihat bagaimana Stargirl menghadapi patah hatinya. Hm... sekali lagi, saya kembali jatuh cinta pada tokoh Stargirl. Dan berharap nanti jika saya memiliki anak, anak saya pun bisa jatuh cinta pada tokoh ini.
Ia teladan yang baik dan menarik yang hadir dari sebuah imajinasi yang manis.
***
“Hari ini  memanggil – manggilmu, mencoba mendapatkan perhatianmu, tapi kau terpaku pada hari esok dan hari ini pun berlalu tetes demi tetes seperti air di dalam talang. Besok paginya kau bangun dan hari ini yang kau buang percuma sudah berlalu selamanya, sudah menjadi hari kemarin. Beberapa momen itu mungkin menyimpan hal – hal menakjubkan untukmu, namun sekarang kau tidak akan pernah tahu.” (Hal. 212)