Penulis: Adhitya Mulya
Penyunting: Resita Wahyu Febriatri
Proofreader: Yuke Ratna P & Mita M. Supardi
Desainer Sampul: Jeffri Fernando
Penata Letak: Landi A. Handwiko
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Keempat, 2014
Jumlah hal.: x + 278 halaman
ISBN: 979-780-721-5
“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok. Ini Bapak.
Bapak Cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah,
berkat doa Satya dan Cakra.
...
Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.
Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away form us.
I don’t give death, a chance.
Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.
***
]
Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan..., tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.
***
Novel ini berkisah tentang Gunawan, seorang ayah yang mempersiapkan agar kematian tidak membuat kedua putranya, Satya & Cakra, kehilangan sosok Bapak sepeninggalnya. Ia ingin tetap membantu Itje, istriya, membesarkan kedua anak laki – laki mereka. Maka ide membuat video – video dengan nasihat sang Bapak di dalamnya menjadi pilihan Gunawan. Ia merasa bahwa teknologi memang seharusnya bisa membantu manusia mengisi beberapa kekosongan. Ia pun ingin menunjukkan kepada sang anak tentang apa yang ia sebut “punya rencana; punya persiapan”. Maka selain mempersiapkan kebutuhan ekonomi yang cukup untuk istri dan anaknya sebelum ia berpulang karena kanker, ia pun mempersiapkan video – video yang bisa mengisi perannya. Tidak sama, tapi paling tidak bisa mengisi kekosongan.
Setelah itu, diceritakanlah kehidupan Satya dan Cakra (atau akrab disapa Saka) saat dewasa. Bagaimana Satya yang tengah mengalami polemik dalam rumah tangganya. Kesadaran bahwa istri dan anaknya ternyata kurang nyaman dengan kehadirannya. Ini membuat ia kembali menonton semua video yang dibuat oleh sang Bapak.
Pun dengan Cakra. Ia yang masih terus hidup sendiri saat semua orang menyuruhnya untuk segera memiliki pendamping hidup, terus berusaha hidup dengan cara yang diajarkan sang Bapak. Ia kini telah siap dengan rumah dan kemapanan ekonomi untuk istrinya, siapapun wanita yang ditetapkan Tuhan sebagai jodohnya.

No comments:
Post a Comment