Tuesday, 30 June 2015

[Giveaway] Review Pssst...!




“... belajar berdamai dengan keadaan, untuk menjadikan masa lalu tetap masa lalu bukan hantu yang menghantui masa depannya, masa depan kita.”(Hal. 29)


Penulis: Dy Lunaly
Penyunting: Ikhdah Henny
Perancang sampul: Nocturvis
Ilustrasi sampul & isi: Nocturvis & Belinda CH
Pemeriksa aksara: Gabriel
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Ketiga, Maret 2014
Jumlah hal.: viii + 204 halaman
ISBN: 978-602-7975-59-0
Enggak ada yang salah dengan liburan atau negara ini. Aku yang salah. Salah enggak, sih, nyimpen rahasia dari sahabat sendiri?
-Wira

Ada banyak alasan kenapa aku memilih Belgia, termasuk karena aku akan lebih jujur kepada mereka. Semoga!
-Jiyad

Luksemburg, ada apa di negara kecil ini? Nggak tahu, sih, sama enggak tahunya kalau pilihanku ini akan menjadi bencana. HELP!
-Noura

Aku lebih dari sekadar bahagia ketika merayakan ulang tahun di depan Menara Eiffel. Tapi, Wira merusaknya dengan sempurna! ARGH!
-Adhia

Tiga kesalahan! Memilih tujuan liburan dengan dart, mengubah rencana di detik terakhir, dan yang paling parah, akhirnya aku jujur kepadanya. Eh, itu kesalahan bukan, ya?
-Kalyan

***

“Aku tersenyum melihat mereka. Aku mungkin nggak bisa memilih siapa yang menjadi keluargaku, tapi aku bisa memilih siapa yang menjadi sahabatku ...” (Hal. 38)

Kisah 5 sahabat yang melakukan perjalanan ke Eropa ini diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang pertama dari 5 orang berbeda. Cerita dibuka dengan cerita dibuka dengan flashback kehidupan Wira. Cerita tentang sang ayah yang pergi dan meninggalkan bekas luka di hati Wira dan ibunya.

Kemudian cerita tentang liburan itupun dimulai dengan menghubungkannya dengan kisah masa kecil Wira. Kenangan Wira dengan kota Amsterdam. Kemarahan pada sang ayah.

Setelah itu cerita berlanjut ke Belgi. Gudangnya cokelat yang nikmat dan lezat. Juga tempat Herge Museum berada. Tempat Jiyad bisa melihat museum penulis Tintin yang digemarinya. Dan selama perjalanan di Belgia, sudut pandang orang pertama dari sisi Jiyad-lah yang dipakai. Dan melalui sudut pandang ini  jugalah sebuah pengakuan besar dari Jiyad dilontarkan dan mengancam retaknya hubungan persahabatan mereka.
Baca selengkapnya »

No comments:

Post a Comment