Friday, 29 January 2016

Alias



“Cahaya itu selalu baik,” (Hal. 73)


Editor: Mahir Pradana
Proofreader: Dewi Fita
Desain sampul: Dwi Anissa Anindhika
Tata letak: Erina Puspitasari
Penerbit: Rak Buku
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: ii + 236 halaman
ISBN: 978-602-732-301-8

“Pernahkah pelangi menangis karena hujan dan langit tak mau mewarnainya? Jika sempat, tolong katakan pada hujan untuk menitik satu kali pada tiga puluh tahun kesunyian di ujung pelangi yang tak berbatas. Mungkin saja asa yang tersesat menemukan jalan pulang dan darah tak harus tercurah pada telapak tangan yang beku.”

Sebuah liontin menonton Jeruk pada sebuah nama, Rinai. Sebuah nama yang digunakannya untuk memulai kiprahnya sebagai penulis misteri. Namun, misteri ternyata tidak hanya terjadi di novel fiksi buatan Rinai. Satu per satu korban mulai berjatuhan sesuai dengan kisah di dalamnya. Kini, Jeruk harus berpacu dengan waktu, sebelum lebih banyak lagi korban berjatuhan. Ataukah kali ini, Jeruk sendiri korbannya?

***

“Sobatku yang tak lagi setia. Dengan menyesal aku mengumpulkan semua dendam di dalam darahku. Warnanya lebih merah dari darah. Keras melebihi karang. Pada penghujung ajalku, aku melihat dendam lebih indah dari penantian yang sia-sia. Aku ingin kamu melihatnya bersamaku.” (Hal. 3)

Kalimat di atas adalah kelanjutan dari kalimat yang dicantumkan dalam blurb novel ini. Satu pargaraf yang juga bisa punya arti bagi keseluruhan cerita.

Novel Alias ini bercerita tentang Jeruk Marsala, seorang penulis novel romance yang menulis genre misteri dengan nama lain. Tidak asing dengan plot ini? Ya, bukankah J.K  Rowling yang fenomenal berkat serial Harry Potter melakukan hal yang sama? Apa yang membuat novel ini berbeda?

Sebab bukan itu inti utama novel ini. Masalah muncul akibat novel-novel yang ditulis Jeruk memakai nama Rinai mulai menjadi kenyataan. Satu persatu pembunuhan yang terjadi di novel Misteri Mayat yang Berdetak dan Pisau Air Mata menjadi kenyataan. Ini membuat sosok Rinai semakin memantik rasa penasaran. Terlebih sejak awal, Jeruk menyembunyikan identitas Rinai. Selama ini urusan terkait penerbitan buku-buku Rinai ditangani oleh Darla. Kini populartitas Rinai mulai menyaingi popularitas Jeruk yang telah menulis banyak buku dan novelnya telah difilmkan.

Yang terburuk bukanlah hal itu. Melainkan pembunuhan yang terus terjadi tanpa bisa ditemukan pelakunya. Pembunuhan ini pun kemudian mulai mengancam keselamatan orang-orang yang Jeruk kenal. Siapa sebenarnya pelaku pembunuhan ini? Bagaimana mungkin bisa semua hal yang terasa mustahil terjadi bisa benar-benar menyata di hadapan Jeruk?

Apa yang hanya imajinasi dan mimpi kini benar-benar memburu Jeruk di alam nyata. Apa yang salah? Apa yang sedang terjadi?
Baca selengkapnya »

No comments:

Post a Comment