“Ada masanya saat kita mesti berjalan sendiri-sendiri di tempat yang berjauhan – sebagai dua manusia yang saling merindukan. Dan, rasa kehilangan adalah pengalaman ajaib yang membuat kita lebih mengerti tentang rasa memiliki – di mana sepi selalu melubangi benteng air mata, di mana lesat waktu tak bisa kita kejar, di mana jarak tak bisa kita ringkas.” (Hal. 81)
Penulis: Fahd Pahdepie
Penyunting: Ika Yuliana Kurniasih
Perancang sampul: labusiam
Pemeriksa aksara: Achmad Muchtar
Penata aksara: Martin Buczer
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Kedua, Desember 2015
Jumlah hal.: x + 246 halaman
ISBN: 978-602-291-118-0
Apa itu jodoh?
Barangkali imajinasimu tentang jodoh dan belahan jiwa begitu sederhana: di tepi pantai, kau mengandaikan ada orang di seberang sana, yang tengah menunggumu untuk berlayar.
Namun di saat yang sama, terkadang kau justru meragu sehingga sering kali hanya bisa menunggu, mendambakan orang yang kau nantikan itu akan lebih dulu merakit sampannya, mengayun dayungnya, dan mengarahkan kompasnya untuk menjemputmu.
Tetapi laut, ombak dan isinya, selalu menjadi misteri yang tak terduga-duga, bukan? Orang yang kau sangka belahan jiwa sering kali hanyalah perantara, atau justru pengalih perhatian dari belahan jiwamu yang sesungguhnya.
Ini adalah kisah tentang seorang laki-laki dan perempuan, yang memutuskan untuk berlayar – jauh sebelum mereka mengenal ketakutan; jauh sebelum mereka bisa membaca arah atau menebak cuaca; bahkan jauh sebelum mereka disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang waktu, takdir, cinta, dan jodoh itu sendiri.
***
“Perpisahan tak menyedihkan. Yang menyedihkan adalah bila habis itu kita saling lupa, kan?” (Hal. 55)
Novel Jodoh ini berkisah tentang Sena dan cinta pertamanya, Keara. Sena yang jatuh cinta pada Keara sejak pertama kali melihatnya di hari pertama mereka memakai seragam merah putih mencoba menuliskan kisah tentang dirinya dan Keara. Ia dan Keara adalah dua orang yang mengenal cinta terlalu dini namun juga menjadi dua pihak yang paling berusaha untuk mewujudkan kebersamaan mereka.
Sejak sekolah dasar hingga menengah mereka selalu bersama. Sena yang selalu membisikkan nama Keara dalam doa dan harapnya pun ternyata masih mampu meragu tentang jodoh. Adakah ia dan Keara memang berjodoh?
Mereka harus bisa menghabiskan hari tua bersama. Itu yang selalu mereka harapkan. Tapi akankah ia terwujud? Apakah perjuangan mereka untuk saling menjaga sambil tetap saling meraih akan membuahkan kebersamaan?
Dan saat satu persatu tantang datang. Sungguhkah mereka memang berjodoh? Kemudian Keara mengajak Sena menantang waktu. Membuktikan bahwa jika batas waktu itu berlalu dan mereka masih tetap bersama maka mungkin itulah yang disebut “jodoh”.
“Novel tentang cinta bukan sesuatu yang remeh-temeh. Cinta nggak pernah sederhana!” (Hal. 8)
Baca selengkapnya »

No comments:
Post a Comment