Wednesday, 13 January 2016

Cafe Waiting Love



“Emas murni tidak takut ditempa dengan api. Cinta tidak takut menunggu.”
(Hal. 167)
Penulis: Giddens Ko
Penerjemah: Julianti
Penyunting: Arumdyah Tyasayu
Proofreader: Selsa Chintya
Cover Designer: Bambang ‘Bambi’ Gunawan
Penerbit: Haru
Cetakan: Pertama, Januari 2016
Jumlah hal.: 404 halaman
ISBN:978-602-7742-70-3
Dalam hidup ini,
ada beberapa kali saat di mana jantung
berdegup dengan kencang,
dan kata-kata tidak sanggup terucap?
Aku belum pernah berpacaran,
tapi aku tahu bahwa seseorang yang percaya pada cinta,
seharusny menghargai momen setiap kali
jantungnya berdebar,
kemudian dengan berani mengejar kali berikutnya,
kali berikutnya,
dan kali berikutnya lagi.
Di dalam sebuah cafe kecil,
setiap orang sedang menunggu seseorang.
***
“Mengajarkan bahwa bersandar pada gunung, gunung bisa runtuh; bersandar pada orang, orang akan menjadi tua; unuk mendapatkan kebahagiaan, yang terbaik tetaplah mengandalkan diri sendiri.” (Hal. 6)
Novel Cafe Waiting Love ini bercerita tentang kehidupan Li Siying dengan orang-orang terdekatnya. Kisah yang banyak bertempat di Cafe Waiting Love milik Nyonya Bos yang nyentrik.

Siying bekerja  sebagai pelayan (juga merangkap barista) di Cafe Waiting Love. Rekan kerjanya, Albus, adalah seorang lesbian yang sangat irit berbicara namun juga seorang pengamat yang jeli. Siying tertarik pada salah seorang pelanggan di kafe tersebut. Zeyu, mahasiswa Universitas Chiao Tung. Rasa kagumnya pada sosok laki-laki itu membuat Siying bertekad untuk kuliah di universitas yang sama.

Suatu hari Siying mendengar cerita tentang A Tu yang kerap diolok oleh teman-temannya karena berita bahwa pacarnya direbut oleh seorang lesbian. Mendengar cerita itu, Siying sangat bersimpati pada orang tersebut. Ternyata Siying bertemu langsung dengan pria itu dan akhirnya membela A Tuo, ya kakaknya salah mengingat nama, di hadapan teman-teman A Tuo. Ini karena Siying amat geram dengan sikap A Tuo yang terkesan lemah hingga teman-temannya terus mengoloknya. Sejak itu, Siying pun berteman dengan A Tuo.

Berkenalan dengan A Tuo membawa Siying ke kehidupan yang lebih berwarna. Ia berkenalan dengan banyak orang yang unik. Ada Bibi Pisau Emas, Paman Pisau Emas, Kepala Besi, Abang Bao si Raja Pembantai Orang di Hsinchu, dan orang-orang unik lainnya. Siying pun menikmati pertemanan itu.

Di sisi lain, Siying masih terus menyimpan ketertarikannya pada Zeyu. Hingga suatu hari Zeyu putus dengan kekasihnya dan Siying pun memberanikan diri menyapanya. Mereka pun jadi memiliki hubungan yang menarik. Siying kemudian berhasil masuk di universitas yang sama dengan Zeyu. Namun sayangnya Zeyu masih belum menyadari perasaan Siying.


Lantas apa keputusan Siying saat ia dihadapkan pada keputusan untuk menelaah perasaannya pada A Tuo dan Zeyu? Apakah rasa nyaman bersama A Tuo memang hanya karena persahabatan? Apakah “seseorangnya” adalah Zeyu?
Baca selengkapnya »

No comments:

Post a Comment