“Cinta yang terlambat disadari itu memang berbahaya. Jadi, kalau kau punya orang yang sangat kau cintai, jangan pernah meninggalkannya, nanti malah kau yang ditinggalkan.” (Hal. 162)
Editor: Cicilia Prima
Desain kover: Margaretta Devi & Ivaba PD
Ilustrator isi: Mico Prasetya
Penata isi: Yusuf Pramono
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Agustus 2015
Jumlah hal.: vi + 226 halaman
ISBN: 978-602 -375-164-8
Han Dae – Ho, memutuskan tinggal sendiri di Seoul setelah ia mengetahui bahwa ia bukanlah anak kandung dari kedua orang tua yang ia sayangi. Dua bulan setelah menetap di Seoul, Dae – Ho mendapatkan pekerjaan sebagai pengantar surat. Dae – Ho akhirnya tahu ia bukanlah pengantar surat biasa. Choi Hyun – Ki, bosnya, menyuruhnya menjamin bahwa si penerima surat membaca surat itu. Karena surat – surat itu adalah surat yang tidak pernah disangka akan didapatkan si penerima.
Dae – Ho sangat menikmati pekerjaannya. Meski begitu ia tetap sulit melupakan keluarganya yang selama ini menemani hari – harinya. Termasuk Hana, gadis blasteran Korea dan Amerika Serikat yang sangat disukainya. Semakin Dae – Ho lari dari masa lalunya, masa lalu itu justru tiba – tiba datang di hadapannya. Dae – Ho pun bertanya – tanya, mengapa ia memerankan sebuah drama yang tidak pernah ingin dilakoninya ini?
***
Dae – Ho yang hidup sendirian di Seoul akhirnya mendapat pekerjaan. Pekerjaan ini sangat menggiurkan karena beberapa syaratnya:
- Gaji awal 3.000.000 Won, bisa naik!
- Anda juga memiliki kesempatan untuk keliling Korea Selatan
Ini bikin Dae – Ho bersemangat karena pikirnya dengan mengambil pekerjaan ini maka impiannya untuk keliling Korea Selatan akan terwujud. Di saat yang sama ia bisa membiayai hidupnya. Tabungannya yang sudah sekarat membuatnya menginginkan pekerjaan ini.
Dan ternyata Dae – Ho berhasil mendapatkan pekerjaan itu. Dan ternyata jasa delivery ini berbeda dengan jasa lainnya. Dae – Ho harus mengantarkan surat dan memastikan penerima surat membaca surat tersebut. Sehingga tidak jarang Dae – Ho harus membacakan surat yang diantarkan kepada penerima. Biasanya tidak selalu karena penerima suratnya enggan membaca tapi karena mereka merasa seolah tidak punya keberanian untuk membacanya seorang diri. (Hal. 187)
Baca selengkapnya »

No comments:
Post a Comment