Wednesday, 21 October 2015

[Review + Giveaway] Mencari Sebuah Titik



“... segala sesuatu tetap ada jalan keluarnya, kebuntuan itu ada hanya ketika kita benar – benar berhenti.” (Hal. 55)


Penulis: Torianu Wisnu
Penerbit: Quanta (Imprint Elex Media Komputindo)
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: xiv + 160 halaman
ISBN: 978-602-02-7271-7

Sama seperti hidup, buku ini laiknya puzzle. Setiap pribadi berhak menyusun dan merangkai puzzle-nya masing – masing. Begitu pun kita memiliki potongan demi potongan yang tersusun secara ‘acak’ dalam buku ini.

Jika tak cermat, kita akan ‘terjebak’ dalam beberapa kalimat tertentu.
Meski ini ‘hanya’ sebatas Mencari Sebuah Titik’, tetapi persisi yang disampaikan kakak saya, Anis Khurli, “Kamu tidak hanya akan menemukan ‘titik’. Tetapi, akan banyak koma, tanda tanya, tanda seru, petik satu, dan (mungkin) akan menemukan idiom – idiom baru.”

Bersiaplah untuk mengerutkan dahi, nyinyir, atau sekadar tersenyum simpul menyiak setiap kisahnya.

Hingga akhirnya kita akan menyadari bahwa, memang sulit memahami kehidupan yang tak pernah kita ketahui akhir dari sebuah ceritanya. (Karena barangkali, cerita itu akan berlanjut lagi esok hari). Tapi, inilah menariknya kehidupan. Ia memberikan jawaban dari setiap misteri.

***

“Menikah adalah menyatukan dua hati. Jadi menikah harus penuh keridhaan. Ridha orang tua adalah ridha Allah.” (Hal. 11)

Dalam buku ini ada kumpulan titik. Tepatnya ada 24 titik yang mengetengahkan banyak hikmah tentang hidup yang coba dikumpulkan oleh tokoh Genta dan “saya” di dalam buku ini.

Ya, buku ini sulit untuk di definisikan. Ia bukan buku non-fiksi, namun tokoh Genta dan ‘saya’ bisa jadi adalah rekaan. Namun menyebutnya fiksi, rasanya banyak penuturan yang serupa dengan penuturan buku non-fiksi.

Hm... bacalah dan sila definisikan sendiri.

“Kita pun nggak pernah tahu, orang – orang yang datang dalam hidup kita itu ‘benar’ atau ‘salah’. Benar menurut kita belum tentu menurut-Nya, salah menurut kita belum tentu salah menurut-Nya, karena kita kan makhluk penduga.” (Hal. 32)
Baca selengkapnya »

No comments:

Post a Comment