Sebelumnya, terima kasih untuk Atria yang sudah memberikan tempat dan kesempatan bagi saya untuk menjadi guest writer di blognya yang cakep ini sebagai pembuka rangkaian Blog Tour When The Star Falls!
Nah, pada kesempatan ini saya ingin sedikit membagikan sedikit tentang proses kreatif WTSF, mulai dari riset, tokoh, dan proses revisi sampai akhirnya bisa menjadi satu naskah utuh.
***
Sebenarnya, kisah Sam dan Lynn sudah sempat saya tulis tahun 2005. Naskah ini sempat saya kirimkan ke penerbit, tapi waktu itu ditolak. Sedih banget, kan? Setelah itu, WTSF mengendap sangat lama dan akhirnya muncul kembali ke benak saya akhir tahun 2014 saat GWP batch 2 dibuka.
Waktu itu, saya langsung membuka lagi naskah lama tersebut. Kagetnya, naskah itu benar-benar amburadul. Pantas aja ditolak, batin saya waktu itu dan kemudian bertekad untuk memperbaikinya.
Satu hal tentang saya yang jangan ditiru, saya tidak pernah membuat kerangka terlebih dahulu. Kerangka saya menyusul saat saya mulai menulis. Apalagi riset, paling males banget kalau disuruh riset. Jadilah saya menulis kerangka, riset dan menulis naskah semua bebarengan. Bener deh, jangan ditiru. Benar-benar tidak efektif, tapi cara inilah yang saya suka.
“Perban putih ditempel di sisi kepala sebelah kirimu.”
Untuk menulis satu kalimat itu saja, saya harus berhenti mengetik dan membuka browser sambil bertanya pertanyaan di bawah ini:
1. Otak sebelah mana yang mengatur ingatan? Sekitar dahi? Belakang?
2. Operasi pengangkatan tumor otak itu seperti apa? Apa tempurung kepala dibuka semua? Apa hanya disayat? Atau malah semacam pake jarum dan tumornya disedot?
Barulah kemudian saya tahu bahwa ingatan jangka panjang disimpan di Lobus temporalis bagian kiri otak. Melalui beberapa blog para penderita tumor otak yang berhasil bertahan, saya juga tahu operasi pengangkatan hanya memerlukan sebuah sayatan, dan kepala tidak dibebat perban sepenuhnya.
Saya juga masih harus mencaritahu tentang perawatan pasca operasi, obat-obatan kemoterapi, dan lokasi di mana tumor bisa menyebar.
Terus, selain kerangka dan riset, ada satu hal lagi yang penting dalam sebuah naskah novel, yaitu tokoh. Saya ingat salah satu editor saya pernah bilang untuk mempermudah menciptakan karakter adalah menciptakan karakter yang mirip dengan diri saya sendiri atau orang yang dekat dengan saya. Jadi, itulah yang saya lakukan dengan WTSF (terlebih karena sudah eneg dengan riset, jadi nggak mau mikir terlalu berat untuk karakter).
Saat proses penulisan, beberapa bab naskah ini sempat saya ikutkan dalam ajang GWP, tapi sayang sekali tidak bisa masuk sebagai salah satu yang beruntung. Tapi, saya tetap berusaha menyelesaikan naskah ini.
Draf nol (saya menyebutnya draf nol, karena alur belum fix) naskah ini selesai Januari 2015. Saya meminta beberapa orang untuk membaca naskah tersebut dan, ternyata ada beberapa masukan yang membuat saya harus merombak naskah tersebut.
Tahu tidak bahwa dulu:
1. Billy saya tulis sebagai gay yang suka pada Sam
2. Posisi Billy dan Leon terbalik di twist pada akhir cerita
3. Leon dulu disebut tokoh sia-sia dan lebih baik dihapus aja (*kasian)
4. Baru keluar rumah sakit, Lynn sudah bisa keluyuran
Dan masih banyak lagi komentar-komentar kecil yang harus saya garap.
Saya harus merevisi naskah tersebut beberapa kali sampai akhirnya draf satu naskah tersebut jadi, dan akhirnya diterima di meja redaksi Penerbit Haru dan tiba di tangan teman-teman semua dalam bentuk buku yang covernya cantik banget ini!
Nah, kira-kira seperti itu proses kreatif When The Star Falls. Saya membuat playlist sendiri untuk naskah ini, karena ingin membangun suasana melankolisnya. Semoga suasana itu bisa tersampaikan dengan baik.
Akhir kata, mohon maaf kalau ada kekurangan dalam artikel ini, dan semoga artikel ini berguna bagi teman-teman semua!
Baca selengkapnya »

No comments:
Post a Comment