Tuesday, 15 December 2015

Pulang



“Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran.” (Hal. 340)


Penulis: Tere Liye
Editor: Triana Rahmawati
Cover: Resoluzy
Lay out: Alfian
Cetakan: VIII, November 2015
Jumlah hal.: iv + 400 halaman
ISBN: 978-6020-82219

“Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya.”

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

***

“Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing.”(Hal. 101)

Novel ini bercerita tentang kehidupan tokoh utama yang bernama Bujang. Ia yang awalnya hidup di sebuah perkampungan terpencil di sekitar lereng Bukit Barisan, berubah menjadi laki-laki yang bisa berpindah dari satu negara ke negara lain dengan sebuah jet pribadi. Sayangnya, kenyamanan itu tidak ia dapatkan dengan percuma. Bujang harus melakoni pekerjaan sebagai sosok yang menakutkan di dunia shadow economy.

Ia menjadi tangan kanan yang juga tukang pukul bagi Tauke Besar, laki-laki yang mengubah kehidupan Bujang. Saat berusia lima belas tahun, Bujang meninggalkan kampung halaman, bapak, dan mamaknya untuk tinggal bersama Tauke Besar di Kota. Sejak itu, Bujang menjadi pribadi berbeda. Ia yang ternyata jenius bagi anak seusianya akhirnya mengejar ketertinggalannya dalam hal pendidikan formal. Di saat yang sama ia pun dilatih menjadi tukang pukul handal dan profesional. Mendapat ilmu bela diri dari Kopong, tukang pukul senior yang bekerja pada Tauke Besar; belajar ilmu bela diri ala ninja dari Guru Bushi; serta belajar menembak pada Salonga. Ini membuat Bujang memiliki kemampuan bertarung yang hebat.

Bujang pun menjadi salah satu orang paling berperan dalam kemajuan keluarga Tong. Keluarga Tong menjadi salah satu kekuatan besar dalam shadow economy. Bahkan keluarga Tong diperhitungkan di dunia internasional. Pemilihan presiden pun mampu mereka kendalikan. Gelar “si Babi Hutan” yang tersemat pada Bujang kian terkenal dan menakutkan di dunia tersebut.

Hingga suatu hari, Keluarga Tong terancam. Serangan dan pengkhianatan terjadi. Memaksa Bujang berada di sebuah titik di mana ia pun merasa tidak akan mampu melewatinya. Saat itu, rasa takut yang selama ini sudah hilang dari dalam dirinya kembali hidup dan dengan segera memenuhi benak Bujang. Satu persatu kenangan dan pengetahuan bercampur. Kepergiannya ke Kota bersama Tauke Besar, kepergian Mamak, kepergian Bapak, hingga semua hal yang ia alami hingga ia bisa berada di titik tersebut. 

Kemudian kemunculan sosok yang selama ini tidak pernah ia ketahui dan masih memiliki hubungan darah dengannya. Sosok ini mengingatkan Bujang untuk pulang. Tapi pulang ke mana? Apa arti pulang itu?

“Dia baik-baik saja, Bujang. Itu adalah momen paling  sulit bagi seorang guru, ketika muridnya berhasil mengalahkannya. Aku tahu bagaimana rasanya. Antara bangga, sedih, kecewa, semua bercampur menjadi satu. Susah dilukiskan.” (Hal. 184)
 ***
“Kau harus mengalahkan banyak hal. Bukan musuh-musuhmu, tapi diri sendiri, menaklukkan monster yang ada di dirimu. Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja.” (Hal. 219)
Baca selengkapnya »

No comments:

Post a Comment